Jumat, 30 Oktober 2015

laporan vesikolithiasis



Laporan Pendahuluan
Vesikolithiasis

A.      Konsep Dasar
1.      Anatomi Fisiologi Sistem Urinaria
a.       Anatomi
1.        Anatomi Ginjal (Renal)
Ginjal suatu kelenjar yang terletak dibagian belakang dari kavum abdomeinalis dibelakang peritonium pada kedua sisi vertebral lumbalis III, melekat langsung pada dinding belakang abdomen. Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada dua kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita (Syaifuddin, 1999).
2.        Anatomi Ureter
Ureter terdiri dari dua saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:
·           Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
·           Lapisan tengah lapisan otot polos.
·           Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa.
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap 5x/menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk kedalam kandung kemih. Gerakan peristaltik urin masuk ke dalam kandung kemih.
3.        Anatomi Vesika urinaria (kandung kemih)
Kandung kemih adalah satu kantong berotot yang dapat mengempes, terletak dibelakang simfisis pubis dan kandung kemih mempunyai tiga muara, dua muara ureter serta satu muara uretra. Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak dibelakang simfisis pubis didalam rongga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikus medius (Sylvia A. Prince Lorrance W, 1995).
Bagian vesika urinaria terdiri dari:
·           Fundus yaitu bagian yang menghadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent vesika seminalis dan prostat.
·           Korpus yaitu bagian antara verteks dan fundus.
·           Verteks bagian yang runcing kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan:
·           Peritonium (Lapisan Luar)
·           Tunika Muskularis (lapisan otot)
·           Tunika Submukosa dan
·           Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam)
4.        Proses miksi atau rangsangan berkemih
Distensi kandung kemih oleh air kemih akan merangsang stresreseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinter internus segera diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interhus dihantarkan melalui serabut-serabut saraf para simpatis. Kontraksi spinter eksternus secara volunter ini hanya mungkin bila saraf-saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila ada kerusakan pada saraf-saraf tersebut maka terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus menerus tanpa disadari) dan retensi urin (kencing tertahan). Persyaratan dan peredaran darah vesika urinarius. Persyaratan diatur torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontaksi spinter internal peritonium melapisi kandung kemih. Peritonuim dapat digerakkan membuat lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih berisi penuh.


5.        Pembuluh Darah
Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh Limfa berjalan menuju duktus limfatikus sepanjang arteri umbilikalis (Syaifuddin, 1996).
b.      Fisiologi
Kandung kemih juga sering disebut buli-buli. Adapun fungsi dari kandung kemih adalah:
·         Muara tempat akhir zat-zat sisa dari makanan yang kita makan yang tidak diperlukan tubuh atau tidak diroabsorsi tubuh.
·         Tempat penampungan atau menyimpan air kemih yang akan dikeluarkan melalui uretra (Syaifuddin, 1996).
Ginjal juga merupakan salah satu salah satu organ tubuh yang sangat penting berfungsi sebagai:
·         Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun.
·         Mempertahankan suasana keseimbangan cairan.
·         Mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
·         Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
·         Mengeluarkan sisa-sisa metabilosme hasil akhir dari protein ureum, kreatinin, amoniak (Syaifuddin, 1996).

2.      Definisi
Visikolitiasis adalah penyumbatan saluran kemih khususnya pada vesika urinaria atau kandung kemih oleh batu, penyakit ini juga disebut batu kandung kemih (Smeltzer dan Bare, 2000).
Vesikolitiasis adalah batu yang terjebak divesika urinaria yang menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa sakitnya biasa sakitnya yang menyebar kepaha, abdomen dan daerah genitalia. Medikasi yang diketahui menyebabkan pada banyak klien mencakup penggunaan antasid diamox, vitamin D, Laksatif dan aspirin dosis tinggi yang berlebihan.
Batu vesika urinaria terutama mengandung kalsium atau magnesium dalam kombinasinya dengan fosfat, oksalat, dan zat-zat lainnya (Suddarths dan Brunner, 2001)
Vesikolitektomi adalah mengangkat batu vesika urinaria (Tjokro, N.A, et al, 2001).
Batu kandung kemih adalah batu yang tidak normal didalam saluran kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya pada vesika urinaria atau kandung kemih. Batu kandung kemih sebagian besar mengandung batu kalsium oksalat atau fosfat. (Prof. Dr. Arjatm T. Ph.D dan dr. Hendra Utama, SPFK, 2001).
Batu ginjal didalam saluran kemih (kalkulus Uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan/ penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk didalam kandung kemih (batu kandung kemih). proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis) (hhtp://id.wikipedia.org).

3.      Etiologi
Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium).
Faktor- faktor yang mempengaruhi menurut Soeparman (2001:378) batu kandung kemih (Vesikolitiasis) adalah
1.      Factor endogen
a.       Hiperkalsiuria
Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena, hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium dan protein), hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium.
b.      Hipositraturia
Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih, khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi.
c.       Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin yang berlebih.
d.      Penurunan jumlah air kemih
Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.
e.       Jenis cairan yang diminum
Minuman yang banyak mengandung soda seperti soft drink, jus apel dan jus anggur.
f.       Hiperoksalouria
Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, dan penyakit usus kecil atau akibat reseksi pembedahan yang mengganggu absorbsi garam empedu.
g.      Ginjal Spongiosa Medula
Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium idiopatik (tidak dijumpai predisposisi metabolik).
h.      Batu Asan Urat
Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, dan hiperurikosuria (primer dan sekunder).
i.        Batu Struvit
Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dengan organisme yang memproduksi urease.
Kandungan batu kemih kebayakan terdiri dari :
·           75 % kalsium.
·           15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat).
·           6 % batu asam urat.
·           1-2 % sistin (cystine)
2.      Faktor-Eksogen.
Faktor lingkungan, pekerjaan (sopir) , makanan, infeksi bakteri (kurang personal hygine) dan kejenuhan mineral dalam air minum.
3.      Faktor-lainnya.
Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturunan, air minum, pekerjaan, makanan atau penduduk yang vegetarian lebih sering menderita batu saluran kencing atau buli-buli (Syaifuddin, 1996). Batu kandung kemih dapat disebabkan oleh kalsium oksalat atau agak jarang sebagai kalsium fosfat. Batu vesika urinaria kemungkinan akan terbentuk apabila dijumpai satu atau beberapa faktor pembentuk kristal kalsium dan menimbulkan agregasi pembentukan batu proses pembentukan batu kemungkinan akibat kecenderungan ekskresi agregat kristal yang lebih besar dan kemungkinan sebagai kristal kalsium oksalat dalam urine.
Dan beberapa medikasi yang diketahui menyebabkan batu ureter pada banyak klien mencakup penggunaan obat-obatan yang terlalu lama seperti antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi. (Prof.Dr.Arjatmo T. Ph. D.Sp. And. Dan dr. Hendra U., SpFk, 2001). Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium).

4.      Manifestasi Klinis
Menurut Dr willie japans, 1993 bahwa tanda dan gejala atau keluhan tidak selalu ditemukan pada penderita yang mengidap batu saluran kemih. Bila batunya masih kecil atau besar tapi tidak berpindah, tidak meregang atau menyumbat permukaan saluran kemih, tidak akan timbul keluhan seperti biasa sampai suatu saat mungkin ditemukan secara kebetulan pada saat melalukan check up dan poto roentgen tampak ada batu pada ginjal. Jika pada suatu saat batu tergeser mengelilingi ginjal kebawah, maka timbullah gejala nyeri hebat pada daerah pinggang. Saluran ureter yang menghubungkan ginjal dan kandung kamih kecil sekali sehingga batu akan meregangkan dindingnya, bahkan merobek menyumbat lubang visika. Jika batu berhasil sampai bagian bawah saluran ureter maka nyeri akan berpindah dan terasa merambat kearah kemaluan atau daerah pangkal paha. Biasanya disertai keluar darah bersama air. Bila lukanya kecil, darah yang keluarpun sedikit dan hanya dapat dilihat dengan mokroskop. Sumbatan atau regangan batu pada kandung kemih dapat juga menimbulkan nyeri pada konstan dan tumpul pda daerah atas kemaluan pada waktu kencing, kencing tidak tuntas, pancaran kencing tidak kuat.
Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher kandung kemih menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius yang dapat mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda seperti mual muntah, gelisah, nyeri dan perut kembung (Smeltzer, 2002:1461).
Jika sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi, dan lamanya penyumbatan. Jika penyumbatan timbul dengan cepat (Hidronefrosis akut) biasanya akan menyebabkan koliks ginjal (nyeri yang luar biasa di daerah antara rusuk dan tulang punggung) pada sisi ginjal yang terkena. Jika penyumbatan berkembang secara perlahan (Hidronefrosis kronis), biasanya tidak menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang punggung.
Selain tanda diatas, tanda hidronefrosis yang lain menurut Samsuridjal (http://www.medicastore.com, 4 Desember 2009) adalah:
a.       Hematuri.
b.      Sering ditemukan infeksi disaluran kemih.
c.       Demam.
d.      Rasa nyeri di daerah kandung kemih dan ginjal
e.       Mual.
f.       Muntah.
g.      Nyeri abdomen.
h.      Disuria.
i.        Menggigil.

5.      Patofisiologi
Penyebab spesifik dari batu kandung kemih adalah bisa dari batu kalisium oksalat dengan inhibotor sitrat dan glikoprotein. Beberapa promotor (reaktan) dapat memicu pembentukan batu kemih seperti asam sitrat memacu batu kalsium oksalat. Aksi reaktan dan intibitor belum dikenali sepenuhnya dan terjadi peningkatan kalsium oksalat, kalsium fosfat dan asam urat meningkat akan terjadinya batu disaluran kemih. Adapun faktor tertentu yang mempengaruhi pembentukan batu kandung kemih, mencakup infeksi saluran ureter atau vesika urinaria, stasis urine, periode imobilitas dan perubahan metabolisme kalsium.
Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik dan dapat bersifat simtomatik ataupun asimtimatik. Terbentuknya batu saluran kencing memerlukan adanya substansi organik sebagai inti yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu. Terjadinya supersaturasi atau kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti asam urat, kalsium oksalat, sistin akan mempermudah terbentuknya batu Perubahan pola urine yang bersifat asam akan mengendapkan sistin, santin asam dan garam urat, sedangkan pada urine yang bersifat alkali akan mengendapkan garam-garam fosfat (Prof. Dr. Arjatmo Tjokonegoro, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II).
Faktor-faktor resiko mencakup usia dan jenis kelamin, kelainan marfologi makanan yang dapat meningkatkan kalsium dan asam urat, dan adanya kelainan pada ginjal dan saluran (Brunner dan Suddarth, 2001).
Patway
 






























6.      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium yang meliputi pemeriksaan:
a.       Urine
·      pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH yang rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat.
·      Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dengan batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
·      Biakan Urin : Untuk mengetahui adanya bakteri yang berkontribusi dalam proses pembentukan batu saluran kemih.
·      Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat apakah terjadi hiperekskresi.
b.      Darah
·      Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
·      Lekosit terjadi karena infeksi.
·      Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
·      Kalsium, fosfat dan asam urat.
c.       Radiologis
·      Foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi bendungan atau tidak.
·      Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau dilanjutkan dengan antegrad pielografi tidak memberikan informasi yang memadai.
d.      USG (Ultra Sono Grafi)
Untuk mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan ginjal.

7.      Penatalaksanaan  
Menurut  Soeparman ( 2001:383) pengobatan dapat dilakukan dengan :
1.      Mengatasi Simtom
Ajarkan dengan tirah baring dan cari penyebab utama dari vesikolitiasis, berikan spasme analgetik atau inhibitor sintesis prostaglandin, bila terjadi koliks ginjal dan tidak di kontra indikasikan pasang kateter.

2.      Pengambilan Batu
a.         Batu dapat keluar sendiri
Batu tidak diharapkan keluar dengan spontan jika ukurannya melebihi 6 mm.
b.        Vesikolithotomi.
c.         Pengangkatan Batu
·           Lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal
Prosedur non invasif yang digunakan untuk menghancurkan batu. Litotriptor adalah alat yang digunakan untuk memecahkan  batu tersebut, tetapi alat ini hanya dapat memecahkan batu dalam batas ukuran 3 cm ke bawah. Bila batu di atas ukuran ini dapat ditangani dengan gelombang kejut atau sistolitotomi melalui sayatan prannenstiel. Setelah batu itu pecah menjadi bagian yang terkecil seperti pasir, sisa batu tersebut dikeluarkan secara spontan.
·           Metode endourologi pengangkatan batu
Bidang endourologi mengabungkan ketrampilan ahli radiologi mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor. Batu diangkat dengan forseps atau jarring, tergantung dari ukurannya. Selain itu alat ultrasound dapat dimasukkan ke selang nefrostomi disertai gelombang ultrasonik untuk menghancurkan batu.
·           Ureteroskopi
Ureteroskopi mencakup visualisasi dan akses ureter dengan memasukkan alat ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan menggunakan laser, litotrips elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian diangkat.
d.        Pencegahan (batu kalsium kronik-kalsium oksalat)
·           Menurunkan konsentrasi reaktan (kalsium dan oksalat)
·           Meningkatkan konsentrasi inhibitor pembentuk batu yaitu sitrat (kalium sitrat 20 mEq tiap malam hari, minum jeruk nipis atau lemon malam hari), dan bila batu tunggal dengan meningkatkan masukan cairan dan pemeriksaan berkala pembentukan batu baru.
·           Pengaturan diet dengan meningkatkan masukan cairan, hindari masukan soft drinks, kurangi masukan protein (sebesar 1 g/Kg BB /hari), membatasi masukan natrium, diet rendah natrium (80-100 meq/hari), dan masukan kalsium.
·           Pemberian obat

8.      Komplikasi
Adapun komplikasi dari batu kandung kemih ini adalah:
a.       Hidronefrosis
b.      Adalah pelebaran pada ginjal serta pengisutan jaringan ginjal sehingga ginjal menyerupai sebuah kantong yang berisi kemih, kondisi ini terjadi karena tekanan dan aliran balik ureter dan urine ke ginjal akibat kandung kemih tidak  mampu lagi menampung urine. Sementara urine terus menerus bertambah dan tidak bisa dikeluarkan. Bila hal ini terjadi maka, akan timbul nyeri pinggang, teraba benjolan besar di daerah ginjal dan secara progresif dapat terjadi gagal ginjal.
c.       Urimia
d.      Adalah peningkatan ureum di dalam darah akibat ketidakmampuan ginjal menyaring hasil metabolisme ureum, sehingga  akan terjadi gejala mual-muntah, sakit kepala, penglihatan kabur, kejang, koma, nafas dan keringat berbau urine.
e.       Pyelonefritis
f.       Adalah infeksi ginjal yang disebabkan oleh bakteri yang naik secara assenden ke ginjal dan kandung kemih. Bila hal ini terjadi maka akan timbul panas yang tinggi disertai menggigil, sakit pinggang, disuria, poliuria dan nyeri ketok kosta vertebra.
g.      Gagal ginjal akut sampai kronis
h.      Obstruksi pada kandung kemih
i.        Ferforasi pada kandung kemih
j.        Hematuria atau kencing darah
k.      Nyeri pinggang kronis
l.         Infeksi pada saluran ureter dan vesika urinaria oleh batu (Soeparman, et. al, 1960).





B.       Konsep Dasar Keperawatan
Asuhan keperawatan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari lima tahap, yaitu: pengkajian, perumusan, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Nursalam, 2001, dikutip dari iyer, 1996).
1.         Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan upaya untuk mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis mulai dari pengumpulan data, identifikasi, dan evaluasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
a.       Biodata klien dan penanggung jawab
b.      Keluhan klien
Nyeri pinggang, sakit saat miksi keluar darah serta nyeri pada supra pubis.
c.       Riwayat penyakit sebelumnya
·           Apakah klien pernah dirawat sebelumnya bagaimana cara klien mengatasi nyeri (mis. Nyeri berkurang jika klien bnyak minum dan mengurangi aktifitas
·           Apakah klien ada riwayat alergi
d.      Riwayat penyakit keluarga
·           Apakah ada keluarga yang mengalami penyakit yang sama
·           Apakah keluarga biasa mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung asam urat (ikan, daging, jeroan dan ayam)
·           Apakah klien biasa minum air yang sudah dimasak
e.       Pemahaman klien tentang kejadian
Ahli bedah bertanggung jawab, untuk menjelaskan sifat operasi, semua pilihan alternatif, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. Ahli bedah mendapatkan dua consent (ijin) satu untuk prosedur bedah dan satu untuk anestesi. Perawat bertanggung jawab untuk menentukan pemahaman klien tentang informasi, lalu memberitahu ahli bedah apakah diperlukan informasi lebih banyak (informed consent)
f.       Kondisi akut dan kronis :
Untuk mengkompensasi pengaruh trauma bedah dan anestesi, tubuh manusia membutuhkan fungsi pernafasan, sirkulasi, jantung, ginjal, hepar dan hematopoetik yang optimal. Setiap kondisi yang mengganggu fungsi sistem ini (misalnya: DM, gagal jantung kongestif, PPOM. Anemia, sirosuis, gagal ginjal) dapat mempengaruhi pemulihan. Disamping itu faktor lain, misalnya usia lanjut, kegemukan dan penyalahgunaan obat / alkohol membuat klien lebih rentan terhadap komplikasi.
g.      Pengalaman bedah sebelumnya
Perawat mengajukan pertanyaan spesifik pada klien tentang pengalaman pembedahan masa lalu. Informasi yang didapatkandigunakan untuk meningkatkan kenyamanan (fisik dan psikologis) untuk mencegah komplikasi serius.
h.      Status Nutrisi
Status nutrisi klien praoperatif secara langsung mempengaruhi responnya pada trauma pembedahan dan anestesi. Setelah terjadi luka besar, baik karena trauma atau bedah, tubuh harus membentuk dan memperbaiki jaringan serta melindungi diri dari infeksi. Untuk membantu proses ini, klien harus meningkatkan masukan protein dan karbohidrat dengan cukup untuk mencegah keseimbangan nitrogen negatif, hipoalbuminemia, dan penurunan berat badan. Status nutrisi merupakan akibat masukan tidak adekuat, mempengaruhi metabolik atau meningkatkan kebutuhan metabolik.
i.        Status cairan dan elektrolit
Klien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektolit cenderung mengalami shock, hipotensi, hipoksia, dan disritmia, baik pada intraoperatif dan pascaoperatif. Fluktuasi valume cairan merupakan akibat dari penurunan masukan cairan atau kehilangan cairan abnormal.
j.        Status emosi.
·           Respon klien, keluarga dan orang terdekat pada tindakan pembedahan yang direncanakan tergantung pada pengalaman masa lalu, strategi koping, signifikan pembedahan dan sistem pendukung.
·           Kebanyakan klien dengan pembedahan mengalami ancietas dan ketakutan yang disebabkan penatalaksanaan tindakan operasi, nyeri, dan immobilitas.
k.      Pola eliminasi
·           Masalah kebiasaan eliminasi urin pada klien vesikolithiasis ( terganggu ).
·           penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.

l.        Pola istirahat tidur
·           Sering terbangun pada malam hari untuk kencing.
·           Klien merasa tidak nyaman.
m.    Terapi dan diet.
Berikut ini beberapa tips untuk mengurangi risiko masalah prostat, antara lain:
·           Mengurangi makanan kaya akan kalsium.
·           Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari. Kurangi
·           Berolahraga secara rutin.
·           Pertahankan berat badan ideal.
n.      Pemeriksaan fisik
a.       Kepala :
Biasanya pada klien dengan vesikolithiasis tidak ada ke abnormalan kepala yang dikarenakan oleh batu buli buli
b.      Mata :
Tidak ada tampak ikterik.
c.       Mulut dan gigi :
bibir kering, mukosa agak kering.
d.      Thorax :
Auskultasi bunyi napas normal
e.       Abdomen :
·           Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.
·           Distensi kandung kemih
·           retensi urine®- Inspeksi : Penonjolan pada daerah supra pubik
·           retensi urine®- Palpasi : Akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien ingin buang air kecil
·           residual urine®- Perkusi : Redup
f.       Pemeriksaan penis :
uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis.



g.      Pengkajian per sistem
·           Sistem Pernafasan
Atelektasis bida terjadi jika ekspansi paru yang tidak adekuat karena pengaruh analgetik, anestesi, dan posisi yang dimobilisasi yang menyebabkan ekspansi tidak maksimal. Penumpukan sekret dapat menyebabkan pnemunia, hipoksia terjadi karena tekanan oleh agens analgetik dan anestesi serta bisa terjadi emboli pulmonal.
·           Sistem Sirkulasi
Dalam sistem peredaran darah bisa menyebabkan perdarahan karena lepasnya jahitan atau lepasnya bekuan darah pada tempat insisi yang bisa menyebabkan syok hipovolemik. Statis vena yang terjadi karena duduk atau imobilisasi yang terlalu lama bisa terjadi tromboflebitis, statis vena juga bisa menyebabkan trombus atau karena trauma pembuluh darah.
·           Sistem Gastrointestinal
Akibat efek anestesi dapat menyebabkan peristaltik usus menurun sehingga bisa terjadi distensi abdomen dengan tanda dan gejala meningkatnya lingkar perut dan terdengar bunyi timpani saat diperkusi. Mual dan muntah serta konstipasi bisa terjadi karena belum normalnya peristaltik usus.
·           Sistem Genitourinaria
Akibat pengaruh anestesi bisa menyebabkan aliran urin involunter karena hilangnya tonus otot.
·           Sistem Integumen
Perawatan yang tidak memperhatikan kesterilan dapat menyebabkan infeksi, buruknya fase penyembuhan luka dapat menyebabkan dehisens luka dengan tanda dan gejala meningkatnya drainase dan penampakan jaringan yang ada dibawahnya. Eviserasi luka/kelurnya organ dan jaringan internal melalui insisi bisa terjadi jika ada dehisens luka serta bisa terjadi pula surgical mump (parotitis).
·           Sistem Saraf
Bisa menimbulkan nyeri yang tidak dapat diatasi.

h.      Pemeriksaan penunjang
·         Lab. รจ hematuria (bila terjadi obstruksi yang lama)
·         Pemeriksaan pielografi intravena
·         Pemeriksaan ultrasonografi
Adanya batu didalam ginjal, vesika urinaria dan tanda-tanda obstruksi urine

2.         Diagnose keperawatan
a.       Pre Operasi
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka gesekan batu pada vesika urinaria
2.      Perubahan eliminasi (BAK) retensio urine berhubungan dengan adanya penutupan saluran kemih oleh batu dan adanya obstruksi mekanik, peradangan ditandai dengan urgensi dan frekuensi, oliguria (retensi) dan hematuria.
3.      Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan adannya nausea/vomiting, status hipermetabolisme, demam, proses penyembuhan
4.      Kurangnya pengetahuan tentang prognosis kebutuhan perawatan berhubungan dengan pemahaman dan rencana tindakan
b.      Post Operasi
1.      Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan ditandai dengan keluhan rasa nyeri terus menerus operasi, ekpresi wajah meringis, nyeri pada angka….(dengan skala 0-10), tingkah laku, focus pada diri sendiri
2.      Kebersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan dampak obat anastesi ditandai dengan pernapasan lebih dari 20 kali permenit, adanya secret pada jalan napas
3.      Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemasangan kateter, efek medikasi, akumulasi, drainase, status metabolic yang menurun ditandai dengan pemasangan kateter pada permukaan kulit dan jaringan.
4.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan terputus jaringan, dampak dari insisi pembedahan ditandai dengan adanya luka jahitan operasi.

3.         Intervensi
a.       Pre Operasi
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka gesekan batu pada vesika urinaria
Tujuan : perubahan pola eliminasi BAK : Retensio urin teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan criteria BAK dalam jumlah normal, pola BAK seperti biasa, nyeri hilang saat kencing
Intervensi :
a.       Monitor out put intake serta karakteristik urine
Rasional : memberikan info tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi seperti infeksi dan perdarahan dapat mengidentifikasi peningkatan obstruksi atau iritasi ureter
b.      Anjurkan klien untuk meningkatkan intake cairan (minimal 3 – 4 liter/hari sesuai dengan toleransi jantung)
Rasional : meningkatkan hidrasi dapat mengeluarkan bakteri darah dan dapat mamfasilitasi pengeluaran batu.
c.       Tampung urine 24 jam catat jika ada batu yang ikut keluar dan kirim kelaboratorium untuk dianalisa.
Rasional : dapat membantu dalam mengidentifikasi tipe batu dan akan membantu pilihan terapi.
d.      Observasi perubahan warna, bau, PH urine setiap 2 jam.
Rasional : untuk deteksi dini masalah pengumpulan ureum dan ketidakseimbangan setiap elektrolit dapat menjadi racun terhadap CNS (Central Nervus System)
e.       Kolaborasi dalam memonitor pemeriksaan laboratorium seperti elektrolit BUN (Blood Urea Nitrogen), keratin.
Rasional : peningkatan BUN, Kreatinin, dan elektrolit-elektrolit tertentu menindikasikan adanya disfungsi ginjal.
2.      Perubahan eliminasi (BAK) retensio urine berhubungan dengan adanya penutupan saluran kemih oleh batu dan adanya obstruksi mekanik, peradangan ditandai dengan urgensi dan frekuensi, oliguria (retensi) dan hematuria.
Tujuan : setelah dinfakan keperawatan nyeri teratasi dengan criteria : keluhan nyeri hilang, klien tampak tenang dan tidak meningkatkan klien dapat tidur/istirahat yang cukup.
Intervensi :
a.       Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karakteristik, intensitas (skala 0-10). Dan perhatikan tanda-tanda peningkatan tekanan darah, nadi, tidak bisa beristirahat, gelisah dan rasa nyeri yang meningkat.
Rasional : membantu mengevaluasi lokasi nyeri, obstruksi dan pergerakan batu.
b.      Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya mengidentifikasi perubahan terjadinya karakteristik nyeri.
Rasional : pengetahuan klien dengan penyebab nyeri dapat membantu meningkatkan koping klien dan dapat menurunkan kecemasan.
c.       Berikan tindakan untuk kenyamanan seperti membatasi pengunjung, lingkungan yang tenang.
d.      Rasional : meningkatkan relaksasi, mengurangi ketegangan otot, dan meningkatkan koping.
e.       Anjurkan teknik napas dalam sebagai upaya dalam merelaksasi otot.
Rasional : mengalihkan perhatian sebagai upaya dalam merelaksasi otot.
f.       Anjurkan/Bantu klien melakukan ambulasi secara teratur sesuai dengan indikasi  dan meningkatkan intake cairan minimal 3-4 liter/hari sesuai toleransi jantung.
Rasional : hidrasi meningkatkan jalan keluarnya batu mencegah urine statis dan mencegah pembentukan batu.
g.      Catat keluhan meningkatnya nyeri abdomen.
Rasional :obstruksi sempurna pada ureter/vesika urinaria dapat menyebabkan perforasi dan ekstra vasasi didalam daerah perineal yang memerlukan pembedahan segera.
h.      Berikan kompres hangat pada punggung.
Rasional : menghilangkan ketegangan otot dan menurunkan reflek spasme sehingga rasa nyeri hilang.
i.         Pertahankan posisi kateter
Rasional : mencegah urine statis/retensi mengurangi vesiko meningkatnya tekanan renal dan infeksi.
j.        Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi.
·           Narkotik missalnya : meperidin (Demerol) morphin.
Rasional : biasanya diberikan pada fase akut untuk menurunkan kolik dan meningkatkan relaksasi otot/mental.
·           Antispasmodic seperti flavoxate oxybutynin
Rasional : menurunkan reflek spasme yang dapat menurunkan kolik dan nyeri.
·           Kortikosteroid
Rasional : digunakan untuk meningkatkan edema jaringan, untuk memfasilitasi gerakan batu.
3.      Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan adannya nausea/vomiting, status hipermetabolisme, demam, proses penyembuhan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan ketakutan tertasi dengan criteria dapat mengungkapkan perasaannya dan mengidentifikasi cara yang tepat untuk menangani tampak rileks dapat tidur/istirahat dengan cukup. Pernyataan menurunnya Ketakutan dan kecemasan.
Intervensi :
a.       Adakan kunjungan pada klien dengan personal ruangan bedah sebelum operasi jika mungkin diskusikan hal-hal yang kiranya dapat menimbulkan ketakutan kekhawatiran pada klien misalnya masker, lampu, elektroda, suara outoclave, tangisan kecil.
b.      Rasional : dapat memberikan ketenangan/ketentraman hati dan meredakan kecemasan klien sekaligus memberikan informasi untuk tindakan operatif.
c.       Informasi tentang peran perawat sebagai klien intraperatif pada klien.
Rasional : membina hubungan saling percaya, mengurangi ketakutan akan kehilangan control dilingkungan yang baru/asing.
d.      Identifikasi tingkak ketakukan klien yang mungkin mengharuskan penundaan prosedur operasi.
Rasional : ketakutan yang berlebihan atau yang menetap dapat menyebabkan reaksi stress yang berlebihan yang beresiko atau munculnya reaksi yang merugikan terhadap prosedur pembedahan dan obat anastesi.
e.       Beritahu klien tentang anastesi spinal/general yang akan membuat klien tidak sadar/tertidur, dimana jumlah yang lebih akan diberikan jika perlu
Rasional : menerunkan kecemasan atau ketakutan bahwa klien melihat prosedur operasi
f.       Perkenalkan staf operasi saat klien dipindahkan keruang operasi
Rasional : memberi hubungan dan kenyamanan psikis
g.      Bandingkan jadwal operasi, status klien, tingkat operasi dan bicarakan informed consent.
Rasional : menurunkan ketakuatan bahwa prosedur yang salah mungkin dilakukan
4.      Kurangnya pengetahuan tentang prognosis kebutuhan perawatan berhubungan dengan pemahaman dan rencana tindakan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan deficit volume cairan teratasi dengan criteria vital sign normal, berat badan dalam batas normal, nadi perifer teraba, mukosa membrane lembab, turgor kulit baik
Intervensi :
a.       Monitor intake dan out put
Rasional : perbandingan antara intake dan out put dapat digunakan untuk mengevaluasi adanya tingkat renal statis atau gangguan
b.      Monitor vital sign dan evaluasi nadi/volume sirkulasi dan perlunya intervensi
Rasional : merupakan indicator vibrasi atau volume sirkulasi dan perlunya intervensi
c.       Timbang berat badan setiap hari
Rasional : peningkatan BB yng cepat biasa berhubungan dengan retensi air
d.      Kaji adanya muntah, diare, catat karakteristikdan frekuensi muntah dan diare serta factor pencetusnya
Rasional : nausea/vomiting dan diare umunya berhubungan dengan kolik renal karena gangguan sifat seliaka menuju ginjal dan perut, muntah dan diare dapat menyebabkan kurangnya cairan tubuh



b.      Post Operasi
1.      Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan ditandai dengan keluhan rasa nyeri terus menerus operasi, ekpresi wajah meringis, nyeri pada angka….(dengan skala 0-10), tingkah laku, focus pada diri sendiri
Tujuan : jalan napas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan criteria pola respirasi klien normal (respirasi 16-20) kali permenit), tidak ada ronchi dan stridor, sianosis dan tanda-tanda hipoksia lainnya
Intervensi :
a.       Tidurkan klien dengan posisi terlentang dengan kepala dimiringkan selama kesadaran belum pulih
Rasional : posisi tersebut menurunkan resiko aspirasi karena secret terlentang dan dapat keluar lewat mulut
b.      Auskultasi suara napas, dengarkan adanya wheezing crowing dan tidak adanya suara napas setelah ekspirasi
Rasional : kurangnya perbedaannya suara napas merupakan indikasi adanya obstruksi oleh mukusa/lidah yang dapat dikoreksi dengan pengaturan posisi/suction wheezing dapat merupakan indikasi bronkho spasma, berkurangnya suara napas menandakan parsia, total laring spasme
c.       Observasi frekuensi kedalaman penggunaan otot-otot Bantu pernapasan, pernapasan cuping hidung, warna kulit dan mukosa
Rasional : memastikan keefektifan respirasi dengan segera sehingga tindakan, koreksi dapat dilakukan segera jika diperlukan
d.      Monitor tanda-tanda vital secara teratur
Rasional : respirasi yang meningkat, takikardi dan atau barikardi dapat bergerak pada hipoksia
e.       Observasi tingkat kesadaran
Rasional : dengan mengobservasi tingkat kesadaran klien dapat diketahui perkembangan klien dan keberhasilan operasi, serta menentukan tindakan keperawatan selanjutnya
f.       Observasi kebersihan jalan napas dan kebersihan sisa muntahan yang masih tertiggal (dimulut, melakukan section bila perlu)
Rasional : obstruksi jalan napas dapat terjadi, larutan section bila perlu atau mucus didalam tenggorokan/trakea.
g.      Kolaborasi dalam pemberian O2 intake sesuai indikasi
Rasional : memaksimalkan O2 intake untuk berkaitan dengan Hb

5.      Kebersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan dampak obat anastesi ditandai dengan pernapasan lebih dari 20 kali permenit, adanya secret pada jalan napas
Tujuan : gangguan ras nyaman nyeri teratasi setelah dilakukan tindakan keperwatan dengan criteria keluhan nyeri hilang, tampak rilek, dapat istirahat/tidur dengan cukup dan dapat berpartisipasi secara adekuat
Intervensi :
a.       Monitor dan dokumentasikan lokasi dan tempat dari nyeri, catat umuir klien, berat badan, catatan medis/problem psikologis, kesensitipan terhadap analgetik tertentu, hasil intraOperatif seperti ukuran, lokasi, insisi
Rasional : pendekatan penagananan nyeri post operatif tingkatan pada berbagai factor.
b.      Review laporan intraoperatif/respirasi atau mengetahui tipe anastesi dan obat-obatan yang dilakukan.
Rasional : klien yang dianastesi dengan fluthane dan ether dapat mengalami efek analgetik sisa/residu sebagai tambahan, intraoperatif : Blokoka/regional memiliki waktu yang bervariasi yaitu 1-2 jam untuk regional atau lebih 2-6 jam untuk lokal
c.       Evaluasi nyeri secara teratur (setiap 2 jam), catat karakteristik lokasi dan intensitas nyeri (skala 0-10)
Rasional : memberikan informasi tentang kebutuhan untuk dan atau keaktifan intervensi
d.      Anjurkan untuk menggunakan teknik relaksasi, seperti latihan napas dalam
Rasional : menghilangkan ketegangan otot dan dapat meningkatkan kemampuan koping
e.       Keposisi sesuai indikasi, misalnya semifowler
Rasional : dapat menghilangkan nyeri dan menunjang sirkulasi jaringan, semifowler dapat menurunkan tegangan otot abdomen dan tulang belakang
f.       Berikan informasi tentang ketidaknyamanan yang akan terjadi yang hanya bersifat sementara
Rasional : pemahaman tentang ketidaknyaman dapat memberikan keterangan emosional.
g.      Kolaborasi pemberian analgetik intravena sesuai indikasi
Rasional : analgetik intra vena akan mencapai pusat nyeri dengan segera

6.      Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemasangan kateter, efek medikasi, akumulasi, drainase, status metabolic yang menurun ditandai dengan pemasangan kateter pada permukaan kulit dan jaringan.
Tujuan : gangguan integritas jaringan kulit teratsi setelah dilakukan tondakan keperawatan dengan criteria : luka sembuh sesuai dengan waktu yang ditentukan, klien dapat mendemontrasikan teknik/prilaku yang menunjang penyembuhan ddan pencegahan komplikasi
Intervensi:
a.       Lepaskan plester dan balutkan dengan lembut
Rasional : menurunkan resiko trauma pada kulit dan gangguan pada luka operasi
b.      Infeksi luka secara teratur, catat karakteristik dan integritasnya.
Rasional : pengenalan dini terhadap adanya penyembuhan yang terlambat atau perkembangan kearah komplikasi dapat mencegah situasi yang lebih serius
c.       Kaji jumlah dan karakteristik drainase
Rasional : penurunan jumlah drainase mengarah kepada kemajuan proses penyemabuhan, sedangkan drainase yang tepat/ mengandung darah eksudat menandakan adanya komplikasi.
d.      Anjurkan klien untuk tidak menyentuh luka
Rasional : mencegah terkontaminasinya luka
e.       Ganjal area insisi pada abdomen dengan bantal pada saat batuk/ bergerak
Rasional : menggunakan tekanan pada luka, meminimalkan resiko terputusnya jahitan atau rupturnya jaringan
f.       Ganti dan keluarkan balutan sesuai indikasi, rawat luka yang menggunakan teknik aseptic
Rasional : melindungi luka dari injuri mekanik dan kontaminasi, mencegah akumulasi cairan/eksudat yang dapat mengakibatkan infeksi.
g.      Kolaborasi dalam pemberian es jika diperlukan, penmggunaan abdominal binder-iritasi luka disertai debridement sesuai kebutuhan
Rasional : menurunkan pembentukan edema

7.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan terputus jaringan, dampak dari insisi pembedahan ditandai dengan adanya luka jahitan operasi.
Tujuan : infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan kepaeawatan dengan criteria tidak ada tanda-tanda infeksi luka : purulent, drainase, eritema, luka sembuh pada waktunya
Intervensi
a.       Observasi tanda-tanda infeksi pad luka post operasi
Rasional : dapat diketahui secra dini tanda-tanda infeksi pada luka operasi seperti edema, kemerahan, nyeri, yang bertambah berat/terdapat pus pada luka tersebut
b.      Monitor tanda-tanda vital, catat serangan panas, perubahan kesadaran, atau keluhan meningkatnya nyeri yang hebat
Rasional : merupakan tanda-tanda adanjya peradangan/sepsis yang berkembang
c.       Infeksi insisi dan balutan, catat karakteristik drainase dari luka/drainase adanya erytem
Rasional : infeksi dini dari perkembangan proses infeksidan atau memonitor perkembangan kearah abses
d.      Monitor kelancaran drain, hitung output dan warna cairan
Rasional : dapat diketahui adanya infeksi pada luka operasi
e.       Berikan informasi tentang hal-hal yang mempengaruhi daya tahan tubuh
Rasional : dengan meningkatkan pengetahuan klien tentang hal-hal yang mempengaruhi daaaaya tahan tubuh diharapkan klien dapat kooperatif dengan tindakan keperawatan yang akan dilakuakan


4.         Implementasi
Setelah rencana tindakan keperawatan disusun secara sistemik. Selanjutnya rencana tindakan tersebut diterapkan dalam bentuk kegiatan yang nyata dan terpadu guna memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan yang diharapkan.

5.         Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.

























Daftar Pustaka

Doengoes E. marlynn.1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC: jakarta
Didi GoldWine .2012. asuhan Keperawatan Vesikolithiasi.
http://dgoldwine.blogspot.com/2012/03/vesikolithiasis.html. diakses pada tanggal 2 juli 2014 pukul 19.00 WIB.
Agustion Suzuki A.Md.Kep . 2011. Askep Vesikolithiasis.