Rabu, 18 September 2013

perkembangan moral menurut kohlberg



BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Biografi Kohlberg
Lawrence Kohlberg tumbuh besar di Bronxville, New York, dan memasuki Akademi Andover di Massachussets, sekolah menengah atas swasta yang mahal dan menuntut kemampuan akademis tinggi. Dia tidak langsung melanjutkan keperguruan tinggi namun pergi membantu pemulangan orang-orang Israel, bekerja sebagai insinyur tingga dua di pesawat angkut yang membawa pelarian dari Eropa melewati blockade Inggris ke Israel. Setelah itu, pada 1948, Kohlberg masuk ke Universitas Chicago di mana dua lulusan tes penerimaan dengan angka yang sangat tinngi sehingga hanya mengambil sedikit saja mata kuliah untuk memperoleh gelar sarjana mudanya. Dan ini memang dicapai hanya dalam waktu setahun. Dia tinggaI Chicago sebentar untuk mengejar gelar sarjananya di dalam psikologi yang awalnya dia ingin mengambil psikologi kimia. Namun segera dia menjadi tertarik kepada piaget dan mulai mewawancarai anak-anak dan remaja tentang masalah-masalah moral. Semua hasil penelitiannya itu ditulis dalam disertasi doktoralnya (1958), rancangan pertama dari teori pentahapan psikologi yang baru. Kohlberg mengajar di Universitas Chicago dari tahun 1962 sampai 1968, dan di Universitas Harvard dari tahun 1968 sampai ajal menjemputnya ditahun 1987.

2.2. Pengertian Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg
Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg.
Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan,walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.
Kohlberg menggunakan ceritera-ceritera tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Kohlberg kemudian mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif; setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih adekuat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya.

2.3. Tahapan Perkembangan Moral Menurut Kohlberg
      Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.Mengikuti persyaratan yang dikemukakan Piaget untuk suatu Teori perkembangan kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan-tahapan ini.Walaupun demikian, tidak ada suatu fungsi yang berada dalam tahapan tertinggi sepanjang waktu. Juga tidak dimungkinkan untuk melompati suatu tahapan; setiap tahap memiliki perspektif yang baru dan diperlukan, dan lebih komprehensif, beragam, dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya.
·       Tingkat 1 (Pra-Konvensional)
1.         Orientasi kepatuhan dan hukuman
2.         Orientasi minat pribadi( Apa untungnya buat saya?)
·       Tingkat 2 (Konvensional)
3.         Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas ( Sikap anak baik)
4.         Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan)
·       Tingkat 3 (Pasca-Konvensional)
5.         Orientasi kontrak sosial
6.         Prinsip etika universal ( Principled conscience)
a.       Pra-Konvensional
Tingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak, walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan awal dalam perkembangan moral, dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris.
·         tahap pertama
Orientasi hukuman dan kepatuhan (punishment and obedience orientation) ialah tahap pertama dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini perkembangan moral didasarkan atas hukuman, seseorang memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme. Anak-anak taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Anak-anak pada tahap ini sulit untuk mempertimbangkan dua sudut pandang dalam dilema moral. Akibatnya, mereka mengabaikan niat orang-orang dan bukan fokus pada ketakutan otoritas dan menghindari hukuman sebagai alasan untuk bersikap secara moral.
·         Tahap dua
Individualisme dan tujuan (individualism and purpose) ialah tahap kedua dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini penalaran moral didasarkan pada imbalan dan kepentingan diri sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah. Anak-anak menyadari bahwa orang dapat memiliki perspektif yang berbeda dalam dilema moral, tetapi pemahaman ini adalah, pada awalnya sangat konkret. Mereka melihat tindakan yang benar sebagai yang mengalir dari kepentingan diri sendiri. Timbal balik dipahami sebagai pertukaran yang sama nikmat “Anda melakukan ini untuk saya dan saya akan melakukannya untuk Anda.”



b.      Konvensional
Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah, seseorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orang tua atau masyarakat. Pada tingkat konvensional, seseorang terus memperhatikan kesesuaian dengan aturan-aturan sosial yang penting, tetapi bukan karena alasan kepentingan diri sendiri. Mereka percaya bahwa aktif dalam memelihara sistem sosial saat ini memastikan hubungan manusia yang positif dan ketertiban masyarakat. Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa. Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat:
·         tahap tiga
Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas ( Sikap anak baik). Norma-norma interpersonal (interpersonal norms) ialah tahap ketiga dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Tahap penyesuaian dengan kelompok atau orientasi untuk menjadi “anak manis”. Pada tahap selanjutnya, terjadi sebuah proses perkembangan kearah sosialitas dan moralitas kelompok. Norma-norma interpersonal, pada tahap ini seseorang menghargai kebenaran, kepedulian, dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral.Kesadaran dan kepedulian atas kelompok akrab, serta tercipta sebuah penilaian akan dirinya dihadapan komunitas/kelompok. Keinginan untuk mematuhi aturan karena mereka mempromosikan hubungan harmoni sosial muncul dalam konteks hubungan pribadi yang dekat. Seseorang ingin mempertahankan kasih sayang dan persetujuan dari teman-teman dan kerabat dengan menjadi “orang baik”, bisa dipercaya, setia, menghormati, membantu, dan baik. Anak anak sering mengadopsi standar-standar moral orang tuanya pada tahap ini. Sambil mengharapkan dihargai oleh orangtuanya sebagai seorang perempuan yang baik atau laki-laki yang baik, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang “anak baik” untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini.

·         tahap empat
Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan).
Moralitas sistem sosial (social system morality) ialah tahap keempat dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini, pertimbangan moral didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban. Pada kondisi ini dimana seseorang sudah mulai beranjak pada orientasi hukum legal/peraturan yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang tertib dan nyaman dalam kelompok/komunitas. Seseorang memperhitungkan perspektif yang lebih besar dari hukum masyarakat. pilihan moral tidak lagi tergantung pada hubungan dekat dengan orang lain. Sebaliknya, peraturan harus ditegakkan dengan cara sama untuk semua orang, dan setiap anggota masyarakat memiliki tugas pribadi untuk menegakkan mereka serta mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu, sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan.

c.       Pasca-Konvensional
Tingkatan pasca konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Akibat ‘hakekat diri mendahului orang lain’ ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional.
·         tahap lima
Orientasi kontrak sosial. Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual (community rights versus individual rights) ialah tahap kelima dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini, seseorang memahami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain, menyadari bahwa hukum penting bagi masyarakat, tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah. Seseorang percaya bahwa beberapa nilai, seperti kebebasan, lebih penting daripada hukum. Seseorang dipandang sebagai memiliki pendapat dan nilai-nilai yang berbeda. Pada tahap ini penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut ‘memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak?’. Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima. Seseorang menganggap hukum dan aturan sebagai instrumen yang fleksibel untuk melanjutkan tujuan manusia. Mereka dapat membayangkan alternatif tatanan sosial mereka, dan mereka menekankan prosedur yang adil untuk menafsirkan dan mengubah hukum. Ketika hukum konsisten dengan hak-hak individu dan kepentingan mayoritas setiap orang mengikuti mereka karena orientasi partisipasi kontrak sosial bebas dan bersedia dalam sistem karena membawa lebih baik bagi orang-orang dari pada jika tidak ada.

·         tahap enam,
Prinsip etika universal. Prinsip-prinsip etis universal (universal ethical principles) ialah tahap keenam dan tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap tertinggi, tindakan yang benar didefinisikan sendiri, prinsip-prinsip etis yang dipilih dari hati nurani yang berlaku untuk semua umat manusia, tanpa hukum dan kesepakatan sosial. Penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Bila menghadapi konflik secara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan, juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional. Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama. Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus, dengan cara ini tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya.
Kohlberg percaya bahwa ketiga tingkat dan keenam tahap tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia:
1.      Sebelum usia 9 tahun, kebanyakan anak-anak berpikir tentang dilema moral dengan cara yang prakonvensional.
2.      Pada awal masa remaja, mereka berpikir dengan cara-cara yang lebih konvensional.
3.      Pada awal masa dewasa, sejumlah kecil orang berpikir dengan cara-cara yang pascakonvensional.

2.4. Contoh Tahap – tahap perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg
Ø  Tahap 1(Orientasi hukuman dan kepatuhan)
·         Ketika seorang siswa harus mematuhi perintah dari gurunya agar tidak mendapatkan hukuman.
·         Seorang siswa rajin belajar agar dia bisa menjadi seorang juara kelas.
·         Seorang siswa akan rajin belajar agar mendapat nilai bagus dan maksimal karena orang tua menjanjikan sebuah hadiah ketika ia menjadi juara.
·         Seorang anak tidak mau berkelahi dengan temannya karena jika berkelahi akan diberi sanksi oleh ibunya.
·         Agar tidak dihukum oleh ayahnya, seseorang anak atau remaja menurut patuh terhadap perintah orang tuanya walaupun ia tidak senang,contohnya tidak boleh pulang pulang terlalu larut.
Ø  Tahap 2 (Orientasi relativis-intrumental)
·         Anak aktif sesuai anjuran guru agar dipuji.
·         Seorang siswa mempunyai sebuah pekerjaan rumah dari gurunya dia meminta kakaknya untuk membantunya dan jika kakak membantunya dia akan membantu kakaknya membersihkan pekerjaan rumah.
·         Tetap melakukan keinginan yang ada pada dirinya walau dilarang oleh orang tua karena itu merupakan potensinya namun tetap menghargai pendapat orang tua contohnya seorang anak mengikuti kegiatan disanggar tari karena itu merupakan potensinya namun karena dilarang oleh orang tua sebab sering pulang larut sehingga dia mngikuti kegiatan tari tesebut namun dia tetap pulang lebih awal.
·         Dalam melakukan atau memberikan sesuatu kepada orang lain, bukan rasa terima kasih atau sebagai curahan kasih sayang, tetapi bersifat pamrih. Contohnya kegiatan jual beli
·          Siswa akan membayar uang sekolah dan mereka berhak menerima apa yang telah menjadi hak mereka seperti.
Ø  Tahap 3 (Orientasi kesepakatan antara pribadi atau Orientasi ”Anak manis”)
·         Seorang anak ikut membantu kerja bakti didesanya agar warga sekitar berpandangan baik padanya.
·         Berperilaku sopan dan santun kepada yang lebih tua.
·         Seorang anak selalu mengutamakan rasa kebersamaan dengan sahabat baiknya jika sahabatnya sedih maupun senang terkesan dengan sahabat sejati
·         Agar anak dikatakan sebagai anak yang baik, maka anak mengambil standar moral yang diberlakukan oleh orang tuanya. Seperti bangun lebih awal ketika hari libur untuk membantu pekerjaan rumah sang ibu.
·          Selalu ramah kepada para tetangga untuk lebih menjalin rasa persaudaraan seperti sering mengantarkan makanan, mengunjungi rumahnya.dll
Ø  Tahap 4 (Orientasi hukum dan aturan)
·         Dalam ketertiban lalu lintas dianjurkan menggunakan helm SNI dan membawa SIM untuk ketertiban bersama.
·         Seorang siswa harus mematuhi tata tertib disekolah. Contoh : memakai seragam lengkap dalam upacara bendera.
·          Untuk menjaga keamanan dan ketertiban dilingkungan seorang yang berkunjung lebih dari 24 jam atau menginap wajib untuk melapor pada RT atau RW setempat.
·         Tertib dalam administrasi yang menyangkut kepentingan bersama. Contohnya membayar pajak , lisrik dan tagihan lain tepat waktu.
·         Aparatur polisi menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penjaga keamanan dan ketertiban dalam masyarakat sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang telah dibuat dan disepakati bersama.


Ø  Tahap 5 (Orientasi kontrak sosial legalistis)
·         Seorang warga aktif dalam mengikuti kegiatan siskamling dengan harapan lingkungan yang dia tinggali aman, nyaman dan tentram.
·          Seorang mahasiswa mengerjakan tugas dari dosen selain untuk memenuhi kewajibannya sebagai mahasiswa dia juga berharap untuk dapat memperoleh hasil study yang bagus.
·         Ikut bergotong royong dilingkungan desa contohnya ketika seorang warga mempunyai hajat dia turut membantu dengan harapan jika suatu saat dia membutuhkan maka warga yang lain akan turut membantu.
·         Melaksanakan kegiatan adat di desa masing – masing agar tidak dikucilkan oleh masyarakat dan menjadi sebuah kenyamanan bersama.
·         Melakukan jumat bersih disekolah bagi semua warga sekolah sehingga kondisi belajar mengajar jadi lebih nyaman.
Ø  Tahap 6 (Orientasi Prinsip Etika Universal)
·         Seorang suami yang tidak mempunyai uang boleh jadi dia akan mencuri untuk membeli obat untuk keselamatan nyawa istrinya dengan keyakinan menyelematkan kehidupan seseorang merupakan kewajiban moral yang lebih tinggi dari pada mencuri.
·         Dalam sebuah diskusi untuk mencapai musyawarah mufakat kita senantiasa menghormati  pendapat orang lain walaupun bertentangan dengan hatinurani kita.
·         Seorang hakim harus yang memberikan vonis kepada suatu perkara sesuai ketentuan hukum walaupun bertentangan dengan hati nuraninya.
·         Melaksanakan keputusan hasil musyawarah dengan baik dan benar walaupun tidak sesuai dengan hati kita namun karena karena telah menjadi kepusan bersama tetap kita harus menjalankannya.
·          Ketika mendapatkan tugas mendadak diskusi dengan lawan jenis dan tugas itu harus dikumpulkan keesokan harinya, dan kita mengerjakan bersama hingga larut malam niat kita baik untuk mengerjakan tugas namun dimata masyarakat itu pasti dinilai kurang baik



2.5. Contoh dilema moral yang digunakan
      Kohlberg menyusun Wawancara Keputusan Moral dalam disertasi aslinya di tahun 1958. Selama kurang lebih 45 menit dalam wawancara semi-terstruktur yang direkam, pewawancara menggunakan dilema-dilema moral untuk menentukan penalaran moral tahapan mana yang digunakan partisipan. Dilemanya berupa ceritera fiksi pendek yang menggambarkan situasi yang mengharuskan seseorang membuat keputusan moral. Partisipan tersebut diberi serangkaian pertanyaan terbuka yang sistematis, seperti apa yang mereka pikir tentang tindakan yang seharusnya dilakukan, juga justifikasi seperti mengapa tindakan tertentu dianggap benar atau salah. Pemberian skor dilakukan terhadap bentuk dan struktur dari jawaban-jawaban tersebut dan bukan pada isinya; melalui serangkaian dilema moral diperoleh skor secara keseluruhan.
Ø  Dilema Heinz
Salah satu dilema yang digunakan Kohlberg dalam penelitian awalnya adalah dilema apoteker: Heinz Mencuri Obat di Eropa. Seorang perempuan sudah hampir meninggal dunia akibat semacam kanker. Ada suatu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya. Obat itu adalah semacam radium yang baru saja ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. Obat itu mahal ongkos pembuatannya, tetapi si apoteker menjualnya sepuluh kali lipat ongkos pembuatannya tersebut. Ia membayar $200 untuk radium tersebut dan menjualnya $2.000 untuk satu dosis kecil obat tersebut. Suami dari perempuan yang sakit, Heinz, pergi ke setiap orang yang dia kenal untuk meminjam uang, tapi ia cuma memperoleh $1.000, setengah dari harga obat seharusnya. Ia berceritera kepada apoteker bahwa isterinya sudah sekarat dan memintanya untuk dapat menjual obat dengan lebih murah atau memperbolehkan dia melunasinya di kemudian hari. Tetapi si apoteker mengatakan: “Tidak, saya yang menemukan obat itu dan saya akan mencari uang dari obat itu.” Heinz menjadi putus asa dan membongkar apotek tersebut untuk mencuri obat demi istrinya.
Haruskah Heinz membongkar apotek itu untuk mencuri obat bagi isterinya? Mengapa?
Dari sudut pandang teoretis, apa yang menurut partisipan perlu dilakukan oleh Heinz tidaklah penting. Teori Kohlberg berpendapat bahwa justifikasi yang diberikan oleh partisipanlah yang signifikan, bentuk dari repon mereka.

2.6. Kritik
     Salah satu kritik terhadap teori Kohlberg adalah bahwa teori tersebut terlalu menekankan pada keadilan dan mengabaikan norma yang lainnya. Konsekuensinya, teori itu tidak akan menilai secara adekuat orang yang menggunakan aspek moral lainnya dalam bertindak. Carol Gilligan berargumentasi bahwa teori Kohlberg terlalu androsentrik Teori Kohlberg semula dikembangkan berdasarkan penelitian empiris yang menggunakan hanya partisipan lelaki; Giligan berargumentasi bahwa hal tersebut membuat tidak adekuatnya teori itu dalam menggambarkan pandangan seorang perempuan. Walaupun penelitian secara umum telah menemukan tidak adanya perbedaan pola yang signifikan antar jenis kelamin, teori perkembangan moral dari Gilligan tidak memusatkan perhatiannya pada norma keadilan. Ia mengembangkan teori penalaran moral alternatif berdasarkan norma perhatian.
Psikolog lain mempertanyakan asumsi bahwa tindakan moral dicapai terutama oleh penalaran formal. Salah satu kelompok yang berpandangan demikian, social intuitionists, mengemukakan bahwa orang sering membuat keputusan moral tanpa mempertimbangkan nilai-nilai seperti keadilan, hukum, hak asasi manusia, dan norma etika yang abstrak. Berdasarkan hal ini, argumen yang telah dianalisis oleh Kohlberg dan psikolog rasionalist lainnya dapat dianggap hanya merupakan rasionalisasi dari keputusan intuitif. Ini berarti bahwa penalaran moral kurang relevan terhadap tindakan moral dibanding apa yang dikemukakan oleh Kohlberg.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar