Selasa, 29 April 2014

sistem imun



Rangkuman System Imun

A.      System Imun
System imun bertanggung jawab menjaga tubuh dari mikroorganisme penyebab penyakit. System ini merupakan bagian system pertahanan penjamu (hospes) yang kompleks.
Pertahanan hospes bisa bersifat alamiah sejak lahir atau didapat. Pertahanan yang alami meliputi sawar fisik serta kimia, kompleks komplemen, dan sel-sel seperti fagosit ( sel-sel yang diprogram untuk  memusnahkan sel-sel asing seperti bakteri) serta limfosit pembuluh alamiah (natural killer).
Sawar fisik, seperti kulit dan membrane mukosa, mencegah invasi oleh sebagian besar mikroorganisme. Sawar kimia meliputi lisozim (yang ditemukan dalam secret tubuh seperti air mata, mucus, serta saliva) dan asam hidroklorida di dalam lambung. Imunitas akan bekerja ketika tubuh menghadapi sel atau produk sel yang dikenalinya sebagai benda asing seperti bakteri dan virus. Ada dua tipe imunitas yang dihasilkan oleh sel yaitu imunitas humoral (yang dihasilkan oleh limfosit sel B) dan imunitas yang di antarai sel ( yang dihasilkan oleh limfosit sel T).

1.        Respon Imun
Respon imun terutama melibatkan interaksi antigen(protein asing), limfosit B, limfosit T, makrofag, sitokin , dan leukosit komplemen dan leukosit polimorfonukulear. Sebagian sel imunoaktif beredar dalam darah secara terus-menerus, sebagian lain berada di dalam jaringan dan organ-organ system imun seperti timus, limfanodus, sumsum tulang, lien. Dalam timus, limfosit T yang terlibat dalam imunitas yang mampu membedakan subtansi self (hospes) dari nonself (antigen asing) sebaliknya limfosit B yang terlibat dalam imunitas humoral akan mencapai maturitas dalam sumsum tulang.
a.    Antigen
Antigen merupakan subtansi yang dapat menimbulkan respon imun.Limfosit T dan B memiliki reseptor spesifik yang bereaksi terhadap bentuk molekul antigen tertentu, yang dinamakan epitop. Dalam sel B, respon ini berupa immunoglobulin yang juga disebut antibody.
·         Kompleks Histokompatibilitas Mayor
Reseptor antigen sel T hanya dapat mengenali antigen yang berkaitan dengan molekul permukaan sel tertentu, yang dikenal sebagai kompleks histokompatibilitas mayor (major histocompatibility complex, MHC).
MHC yang dikenal sebagai lokus HLA (human leucocyte antigen) merupakan gen pada human chromosom 6 yang memiliki peranan sentral dalam respon imun. Gen ini memproduksi molekul MHC yang berpartisipasi dalam:
a.         Pengenalan antigen sendiri (self) versus antigen asing (nonself)
b.        Interaksi sel yang imunologis aktif melalui coding pada protein permukaan sel.
·         Hapten
Sebagaian besar antigen merupakan molekul berukuran besar seperti protein dan polisakarida. Molekul yang berukuran lebih kecil, seperti obat yang bersifat antigenic dikenal sebagai hapten. Hapten dapat berikatan dengan molekul yang lebih besar atau carrier dan kemudian bersifat antigenic atau imunogenik.
·         Antigenisitas
Factor yang mempengaruhi intensitas interaksi antara subtansi asing dan system imun hospes(antigenitas), yaitu:
a.         Karakteristik fisik dan kimiawi antigen
b.        Sifat asing yang relative (relative foreignnesx)
c.         Susunan genetic hospes, khusus molekul MHC

b.   Imunitas Humoral
Respon imun humoral merupakan salah satu dari dua tipe respon imun yang terjadi ketika subtansi asing menginvasi tubuh.
·         Limfosit B
Limfosit B dan produknya immunoglobulin merupakan dasar imunitas humoral. Antigen yang larut kan terikat dengan reseptor antigen sel B dan dengan demikian respon imun humoral di mulai. Respon ini diatur oleh limfosit T dan produknya.
·         Immunoglobulin
Immunoglobulin yang disekresi oleh sel plasma merupakan molekul empat-rantai dengan dua rantai berat (heavy chains) dan dua rantai ringan (light chains). Setiap rantai memiliki satu region yang bisa berubah variable region (V) dan satu atau lebih region konstan (constant region [C]) yang keduanya dikode oleh gen yang terpisah.
Ada lima kelas immunoglobulin yang sudah dikenal: IgG, IgM, IgA, IgE, dan IgD. Kelima kelas immunoglobulin dibedakan berdasarkan bagian atau region yang konstan (C) pada rantai berat molekul immunoglobulin tersebut.

Klasifikasi Imunoglobulin
Klasifikasi
Deskripsi
IgA
·      Immunoglobulin sekretori (monomer dalam serum, dalam bentuk sekretori)
·      Ditemukan dalam kolostrum, saliva, air mata, cairan hidung, dan secret respiratori, GI serta urogenital
·      Merupakan 20% total immunoglobulin
·      Mempunyai peranan yang penting dalam mencegah agens antigen untuk tidak melekat pada permukaan epitel
IgD
·      Dengan jumlah yang sangat kecil ditemukan di dalam serum (monomer)
·      Dominan pada permukaan limfosit B
·      Bagian terbesar merupakan reseptor antigen
·      Mungkin memiliki fungsi untuk mengendalikan aktivasi atau supresi limfosit
IgE
·      Hanya ditemukan dengan jumlah renik
·      Terlibat dalam pelepasan amina vasoaktif yang disimpan di dalam basofil dan granula sel mast jaringan yang menimbulkan efek alergi
IgG
·      Immunoglobulin yang paling kecil
·      Ditemukan dalam semua cairan tubuh
·      Dapat melintasi membrane sebagai unit strukurai yang tunggal
·      Merupakan 75% total immunoglobulin
·      Reaksi antibody klasik yang meliputi presipitasi, aglutinasi, netralisai, dan fiksasi komplemen
·      Antibody antibakteri dan antivirus yang pertama
IgM
·      Immunoglobulin yang paling besar (pentamer)
·      Biasanya hanya ditemukan dalam system vaskuler
·      Tidak mudah melintasi sawar membrane karena ukurannya
·      Merupakan 5% total immunoglobulin serum
·      Aktivasinya dominan dalam respon imun awal atau primer
·      Reaksi antibody klasik, termasuk presipitasi,aglutinasi, netralisasi,dan fiksasi komplemen


c.    Imunitas Yang Diantarai Sel
Respon imun yang diantarai sel ( cell-mediated immune respone) melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri, virus, serta fungus dan mempertahankan terhadap sel-sel cangkokan serta sel-sel tumor. Limfosit T merupakan peserta utama dalam respon imun yang diantarai sel.
·         Makrofag
Makrofag mempengaruhi baik respon imun maupun respon imflamasi. Precursor makrofag beredar di dalam darah. Berbeda dengan limfosit  B dan T sel-sel makrofag kurang memiliki resptor  permukaan bagi antigen yang spesifik. Salah satu fungsi Makrofag yang paling penting adalah menghantarkanantigen kepada limfosit T, makrofag akan menelan dan memroses antigen, kemudian mengendapkanantigen tersebut pada permukaan selnya sendiri dalam keadaan terikat dengan antigen HLA.
·          Limfosit T
Ada lima tipe sel T dengan  fungsi yang spesifik:
1.        Sel memori yaitu sel yang mengalami sensitisasi dan tetap dalam keadaan dormant (tidak aktif) sampai terjadi pajanan antigen yang kedua yang dikenal sebagai respon imun sekunder.
2.        Sel yang memproduksi limfokin untuk reaksi hipersensitivitas lambat
3.        Sel T sitotoksik yang berfungsi menghancurkan secara langsung antigen atau sel yang membawa antigen.
4.        Sel T helper,  juga di kenal sebagai sel T4, berfungsi memfasilitasi respons yang di antarai sel
5.        Sel T supresor, juga  di kenal sebagai sel T8, berfungsi menghambat respons humoral dan respons yang di antarai sel.
Sel natural kiler (NK) .Sel ini merupakan populasi limfosit berukuran besar yang sebagian di antaranya menyerupai sel T.

·         Sitokin
Sitokin (eitokines) merupakan protein berbobot molekul rendah yang terlibat dalam komunikasi antara makrofag dan limfosit.

d.   System komplemen
Efektor humoral yang utama dalam respon imflamasi yaitu sitem komplemen, meliputi lebih dari 20 jenis protein serum ketika di aktifkan, protein ini sangat berinteraksi dalam sutau proses mirip rangkaian dengan efek biologis yang sangat intensif. Aktivitas komplemen berlangsung melalui salah satu dari dua lintasn.
·         Lintasan klasik
Dalam lintasan klasik IgM, atau IgG terikat dengan antigen untuk membentuk kompleks antigen-antibodi yang mengaktifkan komponen komplemen I, CI. Komponen komplemen ini selanjutnya akan mengaktifkan C4, C2 dan C3.
·         Lintasan alternative
Dalam lintasan alternative, permukaan yang diaktifkan, seperti membrane sel bakteri secara langsung pemecahan spoman C3. Setelah C3 diaktifkan melelui salah satu dari kedua lintasan tersebut akibat komponen terminal, yaitu C5 sampai C9 akan terjadi.

e.    Leukosit polimorfonuklear
Factor kunci lain dalam respon imfalmsi adalah leukosit polimorfnuklear yang terdiri atas: neutrofil, eosinofil, basofil, an sel-sel mast.
·         Neutrofil
Neutrofil merupakan leukosit dengan jumlah terbanyak, berasal dari sumsum tulang dan ketika terjadi infeksi serta inflamasi, jumlah netrofil akan meningkat secara dramatis sebagai respon terhadap keadan tersebut. Neutrofil merupakan leukosit pertama yang bereaksi pada infeksi akut.sel-sel ini mobilitas tingi untuk ditarik kedaerah inflamasi dan merupakan unsure pertama yang membentuk pus.
·         Eosinofil
Eosinofil berasal dari sumsum tulang akan memperbanyak saat terjadi gangguan alergi  dan infeksi parasit. Produk eosinofil dapat pulan mengurangi respon inflamasi pada gangguan alergi.
·         Basofil dan sel mast
Basofil dan sel mast juga bekerja saat terjadi gangguan imun. Berbeda dari basofil, sel mast bukan sel darah. Basofil beredar dalm darah tepi sementara sel mast berkumpul dalam jaringan ikat khususnya didalam paru-paru, usus, dan kulit. Kedua tipe ini memiliki reseptor permukaan untuk IgE.

2.        Perubahan Patofisiologis
System pertahanan hospes dan respon imun merupakan proses yang sangat kompleks dan dapat mengalami malfungsi pada setiap titik di sepanjang rangkaian kejadian. Malfungsi ini dapat meliputi eksagerasi (fungsi yang berlebihan), maldireksi (fungsi yang salah arah) atau tidak adanya aktifitas atau terekannya aktifitas yang menimbulkan gangguan imun.
a.      Malfungsi respon imun
Ketika system imun bereaksi secara tidak tepat, maka dapat menjadi 3 kategori reaksi yang bersifat dasar : hipersentivitas, respon auto imun, dan respon aloimun.
1.      Hiversensitifitas
Hipersensitivitas merupakan respon yang berlebihan atau respon yang tidak tepat dan terjadi pada pajanan antigen yang kedua kali. Akibatnya adalah infalamsi dan destruksi jaringan yang sehat. Alergi mengacu pada efek berbahaya yang ditimbulkan oleh hipersensitivitas terhadap antigen yang juga dinamakan allergen.
·           Hipersensitivitas tipe I, allergen mengaktifkan sel T yang menginduksi sel B untuk memproduksi IgE yang terikat reseptor Fc pada permukaan sel Mast.
·           Hipersensitivtas tipe II, merupakan reaksi spesifik jaringan umumnya melibatkan destruksi sel target oleh antibody yang ditujuakan langsung pada antigen permukaan sel.
·           Hipersensitivtas tipe III, kompleks antigen-antibodi (kompleks imun) yang beredar dalam darah akan menumpuk dan mengendap dalam jarngan.
·           Hipersensitivtas tipe IV, reaksi yang diantarai sel ini melibatkan pemrosesan antigen oleh makrofag. Setelah diproses, antigen tersebut dihantarkan pada sel T. sel T sitotoksik, jika diaktifkan akan langsung menyerang dan menghancurkan sel target.
2.      Reaksi auto imun
Dalam reaksi auto imun, pertahan tubh yang nirmal akan menghancurkan dirinya sendiri karena mengenli antigen sendiri ( self antigen) sebagai antigen asing.
3.      Reaksi aloimun
Diarahkan pada antigen dari jaringan lain pada spesies yang sama. Umumnya reaksi aloimun terjadi dalam reaksi reaksi transplantasi dan transfasi dan resefien bereaksi terhadap antigen, terutama HLA, pada sel-sel donor.
4.      Imunodefisiensi
Respon imun yang tidak ada atau tertekan akan meningkatkan kerentangan sesorang terhadap infeksi.

3.        Gangguan
normalnya, system pertahanan tubuh kita akan melindungi tubuh terhaddap para penyerang yang berbahaya ini. Akan tetapi, kalu jaringan pengaman ini rusak, akibatnya adalah perubahan respon imun atau kegagalan system imun.
a.    AIDS
Keruskan terjadi secara berangsur-angsur pada imunitas yang diantarai sel (sel T), namun penyakit ini juga memengaruhi imunitas humoral dan bahkan autoimunitas karena peranan sentaral limfosit T (helper).
Keadaan ini secara kurang professional tergambar pada:
·         Laki-laki homoseksual dan biseksual
·         Para pemakai obat IV
·         Neonates dari ibu yang terinfeksi
·         Resefien darah ataun produksi darah yang terkontaminasi (menurun secara dramatis sejak pertengahan tahun1985)
·         Pasangan heteroseksual pada individu yang masuk pada kelompok sebelumnya
Ketika muncul keluhan dan gejalanya timbul dalam banyak bentuk yang meliputi:
·         Limfadenopati
·         Gejala nonspesifik
·         Gejala neurologi
·         Infeksi oportunis
Komplikasi AIDS meliputi infeksi oportunis yang berulang.

b.   Rhinitis aliegika
Merupakan reaksi terhadap allergen yang ditularkan melalui udara (allergen terhirup). Bergantung pada alerrgen rhinitis dan konjungtivitas yang diakibatkan dapat terjadi secara musiman (hayfever) atau sepanjang tahun ( rhinitis alergika parenial). Rhinitis alergika merupakan reaksi alergi atopic yang paling sering ditemukan dan mengenai lebih dari 20 juta penduduk amerika. Penyakit ini paling prevalen pada anak kecil dan remaja tetapi bisa terjadi pada semu kelompok umur.
Pemicu yang sering dijumpai meliputi:
·      Tumpang sari yang terbawa angin
·      Allergen dan iritan sepangjang tahun (parenial)
Penyebab rhinitis alergika
Pada rhinitis alergika musiman tanda dan gejala yang utama antara lain gejala bersin-bersin yang di timbulkan mendadak, rinore encer ysng massif, obstruksi dan kongestu nasal dan pruitus pada hidung serta mata. Biasanya semua gejala ini disertai mukosa nasal yang pucat, sianotik, dan edematosa. Kelopak mata dan konjungtiva berwana merah serta edematosa; lakrimasi berlebihan; dan sakit kepala atau nyeri pada sinus. Sebagian pasien juga mengeluh gatal-gatal pada tenggorokannya dan rasa tidak enak badan.
Penanganan
·      Antihistamin menyekat efek  histamine, tetapi umumnya juga menimbulkan efek antikolinergik yang merugikan(mengantuk, mulut kering, mual, pening, penglihatan kabur dan gemeteran.
·      Preparat inhalasi steroid intranasal memberikan efekanti implamasi local di sertai efek merugikan sistemik minimal.
·      Sarankan pasien untuk menggunakan preparan steroid inpalasi secara teratur

4.        Ganguan yang mengancam kehidupan
a.      Anafilaksis
Anafilaksis merupakn reaksi hipersensitivitas tipe 1 yang berpotensi mengancam nyawa pasien yang di tandai oleh urtikaria dengan awitan mendadak serta berlangsung progresif cepat dan gawat pernapasan. 
Anafilaksik biasanya terjadi karena konsumsi obat atau subtansi lain ynag menyebabkan sensitifitas yang meliputi:
·         Serum(biasanya serum kuda)
·         Vaksin
·         Ekstrak allergen
·         Enzim
·         Hormone
·         Penisilin atau antibiotic lain
·         Sulfanoid
·         Anestesi local
·         Salisilat
·         Polisakarida
·         Protein pangan
·         Bias serangga
Biassnya keluhan dan gejala pertama meliputi:
Bersin-bersin, sesak nafas, gatal-gatal pada hidung , urtikaria, angioedema, hipertensi syok, dan kadang-kadang aritmia jantung.

b.      Dermatitis atopic
Dermatitis atopic merupakan gangguan kulit kronis yang ditandai oleh inflamasi kulit yang superfisisal dan rasa gatal yang hebat. Penyebabnya belum diketahui namun kemungkinan besar disebabkan oleh predisposisi genetic, factor yang mingkin menyebabkan adalah:
·         Alergi makanan
·         Infeksi
·         Zat-zat iritan kimia
·         Suhu dan kelembaban yang ekstrim
·         Stress psikologis atau emosi yang kuat
Pada anak-anak yang menderita dermatitis atopic, memiliki gejala pruritus berat menimbulkan pigmentasi berwarna merah muda yang khas dan pembengkakan pada kelopak mata serta lipatan ganda pada kelopak mata bawah.


c.       Alergi lateks
Alergi lateks merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap produk-produk yang mengandung getah karet alam (latek). Yaitu bahan yang semakin banyak terdapat dalam produk yang dipaki di rumahdan tempat kerja. Produk ini berasal dari getah pohon karet dan bukan merupakan lateks sintesis.
Pada alergi lateks yang sejati pasien memperlihatkan tanda dan gejala anafilastik yaitu:
·         Hipotensi akibat vasodilatasi dan peningkatan permiabilitas sekunder
·         Takikardi yang terjadi sekunder karena hipotensi
·         Urtikaria dan pruritus
·         Kesulitan bernafas, broncospasme, mengi dan stridor yang terjadi sekunder karena bronkonstriksi
·         Angioedema akibat peningkatan permiabilitas vaskuler danpembesaran air kedalam jaringan.

d.      Lupus Eritematosus
Lupus eritematosus merupakan gangguan inflamasi kronis jaringan ikat yang muncul dalam dua bentuk: lupus eritematosus discoid yang mengenai kulit saja dan sistemik lupus eritematosus (SLE) yang menyerang lebih dari satu system organ selain kulit serta bersifat fatal.
Penyebab SLE masih merupakn misteri tetapi bukti yang ada menunjukan factor-faktor imunologi , lingkungan, hormonal, dan genetic yang saling terkait, factor-faktor ini dapat meliputi:
·         Sters fisik atau mental
·         Infeksi streptococcus atau virus
·         Imunisasi
·         Kehamilan
·         Metabolism estrogen yang abnormal
·         Terapi dengan obat tertentu
Umumnya gejala klinis SLE meliputi : demam, penurunan berat badan, malaise, keluhan mudah lelah, ruam, dan polliartralgia.


e.       Arthritis rheumatoid
Arthritis rheumatoid merupakan penyakit inflamasi sistemik yang kronis dan terutama menyerang persendianperifer serta otot-otot, tendon, ligament, dan pembuluh darah yang ada disekitarnya. Penyebab infalamsi kronis yang menjadi cirri khas Arthritis rheumatoid tidak diketahui.
Biasanya Arthritis rheumatoid terjadi secara insidious dan pada dasarnya akan menimbulkan tanda dan gejala yang tidak khas dan sebagian besar berhubungan dengan reaksi inflamasi awal sebelum terjadinya reaksi inflamasi synovial. Tnda gejala tersebut meliputi:
·         Keluhan cepat lelah
·         Rasa tidak enak badan
·         Anoreksia dan penurunan berat badan
·         Demam derajat-rendah (subfebris) Yang persisten
·         Limfadenopati
·         Gejala artikuler yang tidak jelas

f.       Urtikaria dan Angioedema
Urtikaria lazimdikenal dengan istilah gelegata(biduran hives) merupakan reaksi kulit yang bersifat episodic dan sembuh sendiri serta ditandai oleh bilur-bilur setempat pada kulit yang dikelilini eritema. Angioedema merupakan erupsi subkutan dan dermal yang menimbulkan bilur-bilur yang lebih dalm serta lebih besar (biasanya pada tangan, kaki, bibir, alat genital,dan kelopak mata) dan pembengkakan yang lebih difus pada jaringan subkutan yang longgar.
Penyebab dari reaksi ini meliputi:
·         Alergi terhadap obat, makanan, serangan serangga kadang-kadang allergen iritan (bulu binatang dan kosmetik) yang memicu respon yang diantara immunoglobulin IgE terhadap allergen protein meskipun obat-obat tertentu dapat menyebabkan urtikaria tanpa respon IgE.
·         Stimulus fisik eksternal seperti hawa dingin (biasanya pada dewasa muda) panas, air atau cahaya matahari.

g.      Vaskulitis
Vaskulitis meliputi sejumlah besar gangguan yang ditandai oleh inflamasi dan nekrosis pada pembuluh darah. Efek klinis bergantung pada pembuluh darah yang terlibat dan mencermikan iskemik jaringan yang disebabkan oleh obstruksi aliran darah.
Vaskulitis dikaitkan dengan riwayat penyakit infeksi yang serius seperti hepatitis B atau endokarditis bakterialis dan dengan terapi antibiotic dosis tinggi. Efek klinis yang ditimbulakan vaskulitis dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan gangguan ini bergantung pada pembuluh darah yang terkena.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar